Kurangi Belanja, Punya Banyak Benda Belum Tentu Bahagia


120 detik membaca

Coba lihat, berapa banyak benda di kamarmu? Sekarang, coba hitung berapa banyak uang yang sudah kamu habiskan untuk membeli benda-benda tersebut? Apa kamu benar-benar butuh? Atau sekadar ingin? Apakah kamu merasa bahagia memiliki benda tersebut?

Benda juga butuh perhatian

Dalam film dokumenter Minimalism: A Documentary About the Important Things, diperlihatkan bagaimana manusia menjadi senang mengonsumsi untuk mengisi kekosongan diri. Bukan karena kebutuhan. Konsumerisme membuat manusia mengejar benda untuk kepuasan sementara.

Seorang psikolog Dr. Randy O. Frost menyatakan dengan menimbun benda, kita tidak hanya memiliki benda-benda di rumah, tetapi mereka juga memiliki kita. Objek membawa beban

tanggung jawab yang mencakup perolehan, penggunaan, perawatan, penyimpanan, dan pembuangan.

Secara tidak sadar, menimbun banyak benda akan membuat kamu kelelahan. Benda memiliki energi, esensi yang melampaui karakteristik fisik mereka. Makanya kamu sering merasa berat kalau harus membuang suatu benda. Alasannya klasik, “Sayang kalau dibuang.”

Dalam situs Psychology Today, Psikolog Lingkungan dan Desain Sally Augustin, Ph.D. berpendapat orang-orang akan berada dalam suasana hati lebih baik saat berada di tempat-tempat yang lebih teratur.

Ekonom dan Sosiolog Juliet Schor, Ph.D. kita perlu benar-benar peduli dengan materialitas benda. Sekarang, kita berada di dunia di mana material sangat penting makna simbolisnya.

Semestinya, saat memutuskan memiliki berarti kita benar benar mengetahui nilai dan menghargai benda tersebut. Tetapi yang terjadi kini adalah perlombaan untuk memiliki sebanyak mungkin.

Minimalisme untuk menekan konsumerisme

Minimalisme bukan seberapa sedikit kamu punya benda atau seberapa simpel desainnya, tapi pola pikir untuk menggunakan benda secara bertanggung jawab. Minimalisme memang tidak bisa sepenuhnya menghapus konsumerisme. Sebab manusia tetap akan mengonsumsi dan membeli. Namun, gaya hidup minimalisme ini setidaknya bisa mengurangi laju konsumsi seseorang.

Masa depan minimalisme pun nampak cerah. Dilansir Forbes, minimalisme telah menginspirasi banyak orang, terutama generasi milenial, untuk punya rumah kecil, isi lemari pakaian yang lebih sederhana, dan mendonasikan benda yang tak terpakai.

Survey Harris Poll dan Eventbrite yang dikutip Bloomberg menyatakan 78% milenial gemar menghabiskan uangnya untuk merasakan pengalaman daripada membeli benda. Membeli pengalaman dipercaya menimbulkan suasana hati positif yang lebih tahan lama.

Menerapkan konsep minimalisme pada kehidupan dapat membantu seseorang untuk berhemat. Beli benda seperlunya dan sesuai fungsinya. Simplicity Institute merilis temuan dari total 2.500 orang di berbagai wilayah, 87% responden menunjukkan mereka lebih bahagia dalam keadaan cukup daripada ketika mereka memiliki lebih banyak harta. Bagaimana, tertarik untuk mencoba minimalisme?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bertambah 1 Lagi, Sekarang Indonesia Jadi 38 Provinsi

Masak Sendiri atau Beli Makan di Luar, Hemat Mana?

5 Tips Belanja Hemat Rp100.000 untuk Seminggu